Madrasah
Kakan Kemenag Wajo: Guru yang Mengajar dengan Kekerasan Hanya Menciptakan Kepatuhan Semu
- Rabu, 24 Juni 2026 | Dibaca : 31 x
Belawa (Kemenag Wajo) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, mengingatkan para guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kecamatan Belawa agar menjadikan cinta sebagai fondasi pembelajaran dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Pesan tersebut disampaikan pada Rabu (24/6/2026) di Belawa, menyusul upaya penguatan pendidikan karakter di madrasah yang dinilai tidak cukup hanya mengandalkan disiplin dan kepatuhan, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang memanusiakan peserta didik.
Muhammad Subhan menegaskan, pendidikan sejatinya tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter mulia. Menurutnya, cara guru memperlakukan peserta didik akan menentukan kualitas generasi yang dihasilkan.
“Hati manusia adalah tanah yang subur. Jika engkau menanam benih ilmu dengan siraman cinta, maka buahnya adalah karakter yang mulia. Jika engkau menanamnya dengan kekerasan, maka hasilnya adalah kepatuhan yang semu,” ujarnya.
Ia menilai, kepatuhan yang lahir dari rasa takut tidak akan bertahan lama. Sebaliknya, pendidikan yang dibangun dengan kasih sayang dan keteladanan akan melahirkan peserta didik yang berakhlak, memiliki empati, serta mampu menghargai sesama.
Karena itu, ia meminta para guru tidak hanya menjadi penyampai materi pelajaran, tetapi juga menjadi pembimbing yang mampu menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar perubahan perangkat pembelajaran, melainkan perubahan cara pandang dalam mendidik.
“Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan untuk taat. Mereka harus dibimbing agar memahami nilai, memiliki kepedulian, dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, Kementerian Agama terus mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang lebih humanis di madrasah. Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus mencegah praktik-praktik kekerasan yang masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan.