Sidrap (Kemenag Wajo) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, mengajak para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk menjadikan nilai-nilai ISTIQOMAH sebagai pedoman dalam menjalankan amanah dan meraih keberkahan hidup. Pesan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI SD Kecamatan Pammana, Bola, dan Takkalalla di Taman Wisata Puncak Bila, Sidrap, Jumat (9/10/2026) malam.
Di hadapan para pendidik yang hadir, Muhammad Subhan menegaskan bahwa guru PAI memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan fondasi keagamaan generasi muda. Menurutnya, tugas guru PAI tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, ibadah, dan akhlak mulia sejak dini.
“Dari sekian banyak profesi di muka bumi, guru PAI memegang posisi amat mulia. Dari tangan merekalah anak-anak kita pertama kali diajarkan bersujud, mengenal rukuk, memahami mana yang hak dan batil, serta membedakan halal dan haram. Maka jangan pernah berkecil hati menjadi guru agama. Rawat dan cintailah profesi ini sepenuhnya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Subhan menguraikan makna ISTIQOMAH sebagai pengingat bahwa keberhasilan dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan tugas tidak hanya ditentukan oleh pencapaian, tetapi juga oleh keteguhan hati, keikhlasan, dan kualitas akhlak. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan profesi sebagai pendidik.
Ia menjelaskan, huruf-huruf dalam kata ISTIQOMAH dapat dimaknai melalui sembilan nilai utama, yakni Ikhlas, Sabar, Tawadhu, Ihsan, Qana’ah, Amanah, Muru’ah, Akhlak, dan Haya’.
Ikhlas berarti meluruskan niat dalam bekerja dan mengabdi karena Allah SWT. Sabar mengajarkan keteguhan menghadapi berbagai ujian, sedangkan tawadhu menuntun seseorang untuk senantiasa rendah hati. Ihsan mendorong setiap insan berbuat baik, sementara qana’ah mengajarkan rasa cukup dan syukur atas rezeki yang diperoleh.
Selanjutnya, amanah berarti menjaga kepercayaan dan melaksanakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Muru’ah mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan dan kepantasan diri, akhlak tercermin melalui perilaku serta tutur kata yang baik, sedangkan haya’ merupakan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai agama dan norma kebaikan.
Menurut Muhammad Subhan, nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi guru PAI dalam menjalankan tugas mendidik. Keteladanan tidak cukup disampaikan melalui nasihat, tetapi perlu diperlihatkan melalui sikap, perilaku, kedisiplinan, serta hubungan yang baik dengan peserta didik dan lingkungan sekitar.
Pada bagian akhir arahannya, ia mengingatkan para guru agar terus memperluas silaturahmi, membangun persaudaraan, dan menjalani pekerjaan dengan hati yang gembira. Ia menilai hubungan sosial yang baik menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga semangat pengabdian.
“Seribu sahabat masih terlalu sedikit dalam perjalanan hidup ini. Luaskan pergaulan, jaga silaturahmi, dan jalani amanah mendidik dengan hati yang gembira dan jiwa yang istiqomah. Insyaallah keberkahan akan selalu menyertai langkah kita semua,” pesannya.
Melalui kegiatan KKG tersebut, para guru PAI diharapkan tidak hanya memperkuat kompetensi dalam pembelajaran, tetapi juga semakin meneguhkan komitmen untuk menjadi teladan bagi peserta didik. Nilai-nilai ISTIQOMAH diharapkan terus hidup dalam pelaksanaan tugas, sehingga pendidikan agama mampu berkontribusi dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.