đź”— Portal Layanan Kemenag RI Buka

Kurikulum Berbasis Cinta Ajak Guru Tinggalkan Label Negatif kepada Peserta Didik

Sengkang (Kemenag Wajo) — Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mendorong guru mengubah cara pandang dalam mendidik peserta didik, salah satunya dengan meninggalkan kebiasaan memberi label negatif kepada murid. Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, saat membuka Workshop Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diselenggarakan Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKKMI) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) MI Wilayah I Tempe dan Wilayah II Pammana di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Kamis (9/7/2026).

Workshop tersebut diikuti kepala Madrasah Ibtidaiyah dan guru dari Wilayah I Tempe serta Wilayah II Pammana. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bagian dari transformasi pendidikan madrasah yang menitikberatkan pada pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai kasih sayang. Turut hadir para pengawas madrasah yang memberikan pendampingan dalam implementasi KBC di satuan pendidikan.

Dalam arahannya, Muhammad Subhan menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga guru tidak boleh lagi memberikan stigma atau label negatif kepada peserta didik.

“Setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda. Tugas guru bukan memberi label, tetapi menemukan, membimbing, dan mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki setiap anak,” tegasnya.

Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta mengajak guru memandang peserta didik sebagai pribadi yang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Karena itu, proses pembelajaran tidak cukup berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan diri, karakter, dan semangat belajar peserta didik.

Ia menjelaskan, guru tidak hanya berperan sebagai mu’allim yang mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai murabbi yang membimbing, mengasuh, dan menjadi teladan. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui komunikasi yang baik, keteladanan, penghargaan terhadap setiap peserta didik, serta mengedepankan kasih sayang dalam proses pembelajaran.

Subhan juga mengingatkan agar guru lebih banyak memberikan apresiasi daripada celaan. Menurutnya, kata-kata positif mampu membangun motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, sedangkan pelabelan negatif justru dapat menghambat perkembangan potensi yang dimiliki anak.

Melalui implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, ia berharap budaya belajar di madrasah semakin humanis dan inklusif, sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi, bakat, dan kemampuannya.