đź”— Portal Layanan Kemenag RI Buka

Rahasia Mendidik Generasi Hebat Menurut Kakan Kemenag Wajo, Ternyata Bukan Soal Akademik

Sengkang (Kemenag Wajo) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, mengajak para pendidik untuk kembali menempatkan kasih sayang sebagai fondasi utama pendidikan saat menyampaikan materi dalam Workshop Bootcamp bertema “Membentuk Manusia Utuh: Penguatan Karakter untuk Pendidikan Berkualitas” yang digelar di Aula SMAN 4 Wajo, Sabtu (20/6/2026).

Melalui kegiatan tersebut, ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan guru menjaga dan mengembangkan fitrah peserta didik melalui pendekatan yang humanis dan penuh kelembutan.


Dalam paparannya, Muhammad Subhan menjelaskan bahwa pendidikan Islam berakar pada kasih sayang Allah SWT. Karena itu, setiap guru harus memiliki keyakinan bahwa anak merupakan amanah yang dititipkan untuk dibimbing, bukan sekadar objek yang harus memenuhi target pembelajaran.

“Setiap anak membawa potensi fitrah yang telah Allah anugerahkan. Tugas pendidik bukan memaksa anak menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya,” ujarnya.

Menurutnya, paradigma pendidikan yang terlalu berfokus pada nilai, peringkat, dan prestasi akademik berisiko mengabaikan aspek penting dalam perkembangan peserta didik, yakni karakter, akhlak, dan kesehatan emosional.

Ia menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan. Oleh sebab itu, pendekatan yang mengedepankan empati, penghargaan, dan kasih sayang harus menjadi budaya dalam proses pendidikan.

Muhammad Subhan juga mengingatkan bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan untuk dibanding-bandingkan, melainkan dipahami dan diarahkan agar berkembang secara optimal.

Menurutnya, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Dengan demikian, sekolah tidak hanya melahirkan siswa yang pintar, tetapi juga pribadi yang berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

Di akhir materinya, ia mengajak seluruh pendidik untuk menjadikan profesi guru sebagai jalan pengabdian dalam membentuk manusia seutuhnya. Sebab, hakikat pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan menumbuhkan manusia yang mampu membawa manfaat bagi sesama.