Sengkang (Kemenag Wajo) — Dunia pendidikan saat ini dinilai tidak lagi cukup hanya berfokus pada capaian akademik semata. Sekolah juga didorong menjadi ruang yang mampu membangun karakter, empati, dan hubungan yang sehat antara guru dan peserta didik.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Studium General yang dirangkaikan dengan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Daerah Ikatan Guru Indonesia (PD-IGI) Kabupaten Wajo Periode 2025–2030 di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Kamis (14/05/2026).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, memaparkan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan nilai kemanusiaan dan kedekatan emosional sebagai bagian penting dalam proses belajar mengajar.
Menurutnya, siswa tidak seharusnya dipandang hanya berdasarkan nilai akademik, tetapi juga sebagai individu yang memiliki latar belakang, potensi, dan tantangan yang berbeda-beda. Karena itu, guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik.
Pendekatan tersebut juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan tanpa rasa takut. Dalam proses pembelajaran, kesalahan dipahami sebagai bagian dari proses tumbuh dan belajar, bukan semata-mata alasan untuk memberikan hukuman.
Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo Alamsyah, Ketua Pengurus Pusat IGI Abd. Wahid Nara, pengurus wilayah IGI Sulawesi Selatan, serta para guru dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Wajo.
Melalui penguatan pendekatan pendidikan yang lebih humanis, para pendidik diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki empati, kepedulian sosial, dan integritas.