đź”— Portal Layanan Kemenag RI Buka

Kakan Kemenag Wajo Luruskan Miskonsepsi KBC: Tidak Mengganti Kurikulum Nasional

Sengkang (Kemenag Wajo) â€” Di tengah penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah, masih muncul anggapan bahwa program tersebut akan mengubah kurikulum nasional yang berlaku. Untuk meluruskan pemahaman itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, menegaskan bahwa KBC merupakan pendekatan pendidikan yang melengkapi, bukan menggantikan, kurikulum nasional. Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan penguatan implementasi KBC yang diikuti kepala madrasah RA, MI, MTs, dan MA se-Kabupaten Wajo di Aula Kemenag Wajo, Kamis (25/6/2026).

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) terus didorong sebagai salah satu upaya memperkuat pendidikan karakter di lingkungan madrasah. Namun, keberadaannya masih kerap disalahartikan sebagai kurikulum baru yang akan menggantikan sistem pembelajaran yang sudah berjalan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo, Muhammad Subhan, menegaskan bahwa persepsi tersebut tidak tepat. Menurutnya, KBC tidak mengubah struktur, mata pelajaran, maupun substansi kurikulum nasional.

“Kurikulum Berbasis Cinta tidak merubah sedikit pun kurikulum nasional. Ia hadir sebagai pelengkap,” kata Subhan.

Ia menjelaskan, KBC berfungsi memperkuat dimensi kemanusiaan dalam proses pendidikan. Selama ini, madrasah telah berhasil mendorong peningkatan prestasi akademik, tetapi pembentukan karakter tetap harus menjadi perhatian utama.

Karena itu, KBC diarahkan untuk menanamkan nilai kasih sayang, penghormatan terhadap perbedaan, kepedulian sosial, serta budaya saling menghargai di lingkungan pendidikan.

Menurut Subhan, implementasi KBC tidak membutuhkan perubahan besar dalam sistem pembelajaran. Yang diperlukan adalah komitmen seluruh satuan pendidikan untuk menghadirkan proses belajar yang lebih ramah, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan tantangan pendidikan saat ini yang tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan berinteraksi, berempati, dan hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.

Melalui penguatan implementasi KBC, madrasah di Kabupaten Wajo diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam seluruh aktivitas pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian sosial yang kuat.