Pitumpanua (MTsN Wajo) – Puluhan layangan membentang di langit MTsN Wajo, Rabu (9/9/2026), menandai penutupan rangkaian peringatan Hari Aksara Internasional yang dirangkaikan dengan Hari Olahraga Nasional melalui festival olahraga tradisional dan parade layangan. Kegiatan yang digagas OSIM MTsN Wajo ini berlangsung selama dua hari dan melibatkan antusiasme murid serta warga madrasah.
Rangkaian kegiatan diawali Selasa (8/9/2026) dengan workshop bertajuk “Eksistensi Aksara Lontara sebagai Warisan Budaya pada Generasi Era Modern”. Materi dibawakan Wakamad Kesiswaan MTsN Wajo, Arfandi Wahyu, dengan mengajak peserta melihat aksara Lontara bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari identitas dan kekayaan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Memasuki hari kedua, Rabu (9/9/2026), suasana madrasah berubah menjadi arena permainan tradisional. Para murid mengikuti Festival Olahraga Tradisional berupa Makkudendeng dan Mahhadang. Permainan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal kembali aktivitas olahraga yang tumbuh dari kearifan lokal sekaligus membangun kebersamaan.
Kepala MTsN Wajo, Nurlelah, menyebut rangkaian kegiatan tersebut sebagai langkah awal untuk menghadirkan model peringatan yang tidak berhenti pada seremoni.
“Ini merupakan cikal terobosan terbaru dari MTsN Wajo yang insyaallah akan diagendakan setiap tahunnya dengan lebih meriah lagi,” tandasnya.
Menurutnya, Hari Aksara Internasional dan Hari Olahraga Nasional dapat dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai momentum pemberantasan buta aksara dan ajakan berolahraga, tetapi juga sebagai kesempatan menghidupkan kembali aksara tradisional.
“Di balik goresannya, tersimpan jati diri bangsa dan akar peradaban Nusantara,” ujarnya.
Arfandi Wahyu menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara MTsN Wajo merefleksikan nilai cinta melalui literasi, budaya, dan olahraga.
“Ini merupakan salah satu bentuk MTsN Wajo dalam merefleksikan cinta. Memperingati Hari Aksara Internasional dan Hari Olahraga Nasional berarti meneguhkan komitmen bahwa literasi adalah hak sekaligus kebutuhan setiap manusia. Aksara adalah simbol cinta pengetahuan, dan melalui pengetahuan yang baik serta olahraga yang cukup adalah jalan menuju kemajuan,” jelasnya.
Puncak kegiatan ditutup dengan parade layangan. Beragam layangan diterbangkan bersama hingga memenuhi langit madrasah. Bagi warga MTsN Wajo, parade tersebut bukan sekadar permainan, tetapi menjadi simbol harapan agar generasi muda terus tumbuh, memiliki pengetahuan, mencintai budayanya, dan tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.
Dengan memadukan literasi aksara Lontara, olahraga tradisional, dan permainan layangan, MTsN Wajo mencoba menghadirkan peringatan yang dekat dengan dunia peserta didik sekaligus membawa pesan tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah era modern.