Perjalanan senin pagi saya hari ini cukup dramatis, dari rutinan sebagai guru juga sebagai perjalanan akhir sebuah tontonan masyarakat yakni Fifa World Cup 2026. Tepat perjalanan pagi ini Adalah laga final. Lalu tiba-tiba teringat sebuah Buku dengan judul The Psychology Of Emotion. Karya psikologi klinis David J.Laiberman. Membuka kerangka fikir saya pagi ini dalam perjalan kesekolah. Kata David J.Laiberman dalam bukunya, Menyisihkan ego demi mendapat kendali terhadap diri sendiri. Maka pertarungan pagi ini adalah siapa yang menundukkan egonya maka sesugguhnya piala 4 tahunan sudah miliknya secara utuh.
Ego Adalah senjata mematikan untuk diri sendiri, kemenangan atas ego adalah kemenangan sejati untuk diri sendiri juga asumsi ini saya dapatkan secara kritis dalam buku David. Perjalanan pagi saya berlanjut, kemudian riuh sporter piggir jalan untuk Kemenangan dramatis tim nasional Spanyol atas Argentina pada Final Piala Dunia FIFA 2026.
Piala Dunia bukan hanya panggung ketangkasan fisik atau adu taktik di atas rumput hijau. Bagi siapa saja yang mengamati dengan kacamata emosional dan spiritual, pertandingan tersebut adalah manifestasi nyata dari pertempuran laten yang jauh lebih fundamental: pertempuran menundukkan ego manusia.
Dalam dinamika tim sepak bola kelas dunia, setiap pemain bertabur bintang memiliki dorongan ego untuk menonjol secara individual. Namun, kemenangan Spanyol membuktikan bahwa kesuksesan tertinggi justru diraih ketika para pemain bersedia menundukkan ego pribadi—paham kapan harus menahan emosi, kapan harus membagi bola, dan kapan harus menempatkan tujuan bersama di atas ambisi pribadi. Kemenangan atas Argentina bukan sekadar kemenangan taktik, melainkan kemenangan kolektif atas ego.
Keterikatan ini menemukan pijakan teoritisnya dalam buku The Psychology of Emotional. Secara psikologis, kecerdasan emosional (EQ) dan regulasi emosi (emotional regulation) memegang peranan krusial dalam menentukan keberhasilan seseorang. Kemampuan untuk mengidentifikasi emosi, menahan amarah atau dorongan egoistis, serta mengalihkannya menjadi tindakan yang rasional dan empatik adalah bentuk tertinggi dari kemenangan diri. Seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri—yang masih dikuasai oleh ego dan emosi destruktif—akan sulit membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Lantas, bagaimana fenomena ini bertautan dengan dunia pendidikan?
Jawabannya terletak pada arah baru pendidikan madrasah melalui Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Kementerian Agama RI. Dalam KBC, peran seorang guru bertransformasi dari sekadar pengajar (mu'allim) menjadi pengasuh spiritual (murabbi) mengutip ucapan Kakan Kemanag Wajo (Muhammad Subhan). Transformasi ini mensyaratkan satu hal mutlak dari seorang pendidik: kemampuan untuk memenangkan ego diri sendiri.
Buku saku Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta menegaskan bahwa sebelum seorang guru mampu menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi murid, ia harus terlebih dahulu mempraktikkan Panca Cinta—termasuk Cinta Diri dan Sesama Manusia. Guru yang masih dikuasai oleh ego cenderung mendidik dengan amarah, menuntut kepatuhan semu, dan menjadikan murid sebagai objek. Sebaliknya, guru yang telah memenangkan egonya akan mampu memberikan keteladanan tanpa syarat.
Sama halnya dengan tim Spanyol yang harus mengesampingkan ego individu demi meraih trofi dunia, seorang guru pun harus "kalah" dari egonya sendiri agar murid-muridnya bisa "menang" dalam kehidupan. Guru perlu mengenali dan mengendalikan emosi dirinya sebelum ia berharap dapat membimbing jiwa-jiwa muda yang dipercayakan kepadanya.
Pada akhirnya, baik dalam megahnya stadion Piala Dunia maupun dalam kesederhanaan ruang kelas madrasah, hukum kehidupan tetap sama: Kemanagan Adalah bukan sebarapa banyak kita menang, siapa kita kalahkan tapi kemampuan memperoleh menang-kalah dengan rendah hati tanpa ego.
Penulis : Ervyan Ramlan (Guru PJOK MIN 2 Wajo)