🔗 Portal Layanan Kemenag RI Buka

Penyuluh Agama dan Penyuluh Pertanian Bersinergi: Dari Pupuk hingga Zakat untuk Keberkahan Petani

Pasaka (Kemenag Wajo) – Kelompok Tani Toddopuli Desa Pasaka menggelar musyawarah kedua pada Kamis (4/6/2026) di Aula Kantor Desa Pasaka, Kecamatan Sabbangparu. Kegiatan ini menjadi wadah evaluasi program sekaligus memperkuat sinergi antara petani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, penyuluh agama, dan berbagai unsur pembina masyarakat dalam mendukung kesejahteraan petani serta pembangunan desa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Pasaka Bali Rawang, Kepala BPP Kecamatan Sabbangparu Mahmud, Penyuluh Agama Islam KUA Sabbangparu Sulaeman Nyampa dan Musliadi, Penyuluh Pertanian Desa Pasaka Aryanti, Babinsa Desa Pasaka Heppy, serta Ketua Kelompok Tani Toddopuli Muh. Ilyas.

Dalam sambutannya, Bali Rawang menegaskan pentingnya musyawarah sebagai sarana evaluasi terhadap berbagai program yang telah dilaksanakan. Ia juga mengajak seluruh anggota kelompok tani untuk terus menjaga kebersamaan dan semangat gotong royong dalam menjalankan kegiatan pertanian.


“Musyawarah sangat penting untuk mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan. Kelompok tani harus tetap menjaga kebersamaan dan semangat gotong royong agar tujuan bersama dapat tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, Mahmud mengingatkan para petani agar meningkatkan kedisiplinan dalam mengelola usaha pertanian. Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kesungguhan petani dalam menjalankan setiap tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan hingga masa panen.

“Petani harus disiplin dalam pengelolaan pertanian, mulai dari turun sawah hingga panen. Ikuti arahan dan pendampingan penyuluh pertanian agar hasil yang diperoleh semakin optimal,” katanya.

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta disampaikan oleh Sulaeman Nyampa. Dalam paparannya, ia mengaitkan pentingnya ketahanan pangan dengan ketahanan iman melalui kewajiban zakat pertanian.

Menurutnya, selain menggunakan pupuk kimia maupun pupuk organik untuk meningkatkan hasil produksi, petani juga memiliki kewajiban menunaikan zakat pertanian setelah panen sebagai bentuk syukur dan sarana memperoleh keberkahan.

“Zakat berarti tumbuh dan bertambah. Selain pupuk yang digunakan di sawah, ada ‘pupuk’ yang wajib digunakan petani setelah panen, yaitu zakat pertanian. Dengan menunaikan zakat pertanian, insya Allah hasil yang diperoleh akan membawa keberkahan dalam kehidupan,” ungkapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para petani yang telah berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.

“Petani itu hebat. Mereka menanam di bumi sambil menanam bekal untuk akhirat. Melalui zakat pertanian, petani tidak hanya memperoleh hasil panen, tetapi juga menanam amal dan keberkahan,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Sulaeman juga menyampaikan Asta Protas (Delapan Program Prioritas Kementerian Agama Berdampak), yang meliputi peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, penguatan ekoteologi, layanan keagamaan berdampak, pendidikan unggul dan ramah, pemberdayaan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, sukses penyelenggaraan haji, serta digitalisasi tata kelola.

Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk mendampingi para petani dalam membangun keseimbangan antara kesejahteraan ekonomi dan nilai-nilai keagamaan.

“Tidak ada kesuksesan yang berdiri sendiri. Karena itu, kita bersama-sama mendukung ketahanan pangan sekaligus ketahanan iman. Mari terus memperkuat sinergi demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeberkahan,” tuturnya.

Musyawarah berlangsung dalam suasana akrab dan penuh dialog konstruktif. Para peserta berharap kolaborasi antara sektor pertanian, pemerintah desa, dan lembaga keagamaan dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.